Catatan Perjalanan Ke Kepulauan Sula, Maluku Utara

Perjalanan dari Makassar menuju Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara berlansung lancar, Alhamdulillah. Perjalanan kali ini memenuhi kewajiban sebagai seorang dosen mengajar pada sebuah perguruan tinggi di salah satu pulau.

Awal perjalanan dimulai dengan menggunakan pesawat udara melalui bandara Sultan Hasanuddin pada Selasa, 22 Februari 2011 terbang menuju Luwuk, Sulawesi Tengah. Selama di Luwuk beristirahat di mess pemda Sula hingga subuh hari. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan speedboat pada sekitar pukul 05.33 wita pada Rabu keesokan harinya. Sampe di salah satu pulau di Kab Kepulauan Sula pada pukul 09.00 wita. Pada subuh hari ombak laut tidak terlalu tinggi.

Setelah sampai di Sula, saya akan menunaikan tugas mengajar mahasiswa kesehatan masyarakat pada sebuah yayasan perguruan tinggi selama tiga hari hingga hari Minggu. Selama mengajar beberapa hari di Kepulauan Sula, saya diinapkan pada rumah seorang kepala sekolah dasar (SD) bernama Ibu Dince di Taliabo. Orangnya sangat ramah dan rela berbagi pengalaman profesinya sebagai seorang guru. Semua fasilitas terbaik diberikan selama menginap dirumah Ibu Dince. Saya dan teman dosen lainnya bahkan diperlakukan istimewa. Dari segudang pengalamannya itu, seandainya saya seorang sineas akan membuatnya dalam sebuah film dokumenter seperti film dokumenter “Suster Apung”. Namun meski saya bukan seorang sineas, bila ada sineas idealis yang membaca tulisan ini semoga mengontak saya untuk dipertemukan dengan Ibu Dince, guru spesialis masyarakat pulau yang sudah berpengalaman mengajar dari pulau ke pulau.

Pengalaman diperlakukan dengan baik oleh tuan rumah selama di Taliabo, Sula berbanding terbalik dengan pengalaman rekan-rekan dosen UMI lainnya yang ditugaskan ke Sula. Beberapa dosen yang sebelumnya dating ke Sula mengeluh, seperti keluhan penginapan yang tidak menyenangkan karena banyak kutu busuknya, air minumnya asin, dan keluhan lainnya. Bahkan rekan dosen itu tidak ingin ditugaskan mengajar lagi di Sula meski dibayar lima-sepuluh juta. Namun berbeda dengan pengalaman yang saya rasakan selama di Sula yang menyenangkan. Mungkin karena niat saya Lillahi Taala datang berbagi ilmu dimudahkan selama menuju dan berada di Taliabo, Sula, Maluku Utara yang berbatasan dengan Provinsi Maluku di selatan.

Pada sebuah Yayasan di Sula, Maluku Utara yang menjalin kerjasama dengan UMI Makassar, saya kebagian mengajar mahasiswa program studi kesehatan masyarakat dari empat program studi yang ada yakni Ekonomi, Agama, dan Pertanian. Sebanyak 15 orang mahasiswa yang mengambil program studi kesehatan masyarakat. Meski tergolong kecil dan jauh terpencil di pelosok pulau, semangat belajar mahasiswa tidak kendor. Saya juga berupaya memotivasi semangat belajarnya dengan berbagai kata-kata bijak.

Meski jauh di pelosok pulau, saluran komunikasi tetap bisa terjalin dengan dunia luar berkat kehadiran Telkomsel. Penyedia saluran milik semi-pemerintah itu adalah satu-satunya saluran komunikasi dengan dunia luar di Kepulauan Sula. Kebetulan saya menggunakan salah satu produk Telkomsel (Kartu Halo) sehingga komunikasi dengan keluarga di Makassar tetap terjalin.

Selain aktifitas mengajar, disela-sela waktu digunakan untuk menjalin silaturahmi informal dengan mahasiswa dan penduduk setempat sembari makan-makan ubi goreng pada Rabu sore (25/02/11). Pada kesempatan lain diundang makan-makan jagung bakar di pinggir sungai. Sungguh pengalaman yang menyenangkan selama di Pulau.

Minggu dinihari 27 Februari 2011, tiba saatnya berkemas untuk suatu perjalanan pulang. Namun tidak seperti subuh sebelumnya ketika akan menyebrang dari Luwuk, kali ini ombak demikian tinggi. Rasa was was tiba-tiba muncul menyaksikan deburan ombak yang tidak henti-hentinya menyapu pantai.

Meski diselimuti rasa was was, tekad untuk mengarungi lautan dengan speedboat milik pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula tetap besar. Rindu dengan suami dan anak-anak sudah membubung tinggi. Acara keluarga di Jeneponto, Sulawesi Selatan batal dihadiri pada hari Minggu karena masih bergulat dengan tugas mencerdaskan anak bangsa di pelosok pulau di Maluku Utara.

Dengan tekad bulat, saya bersama lima rekan-rekan staf pengajar dari UMI Makassar pulang dengan speedboat yang lebih besar dari sebelumnya yang digunakan ketika berangkat dari Luwuk, Sulawesi Tengah. Dengan kecepatan tinggi dan ombak tinggi, speedboat mampu melaju kencang membelah ombak laut, dari gugusan pulau Maluku Utara menuju daratan di Luwuk, Pulau Sulawesi. Resikonya, selama empat jam lamanya badan berjungkir balik didalam speedboat yang lapang. Kemewahan speedboat milik pemerintah Kabupaten Sula tidak dirasakan lagi akibat terombang-ombing gelombang laut. Salah seorang rekan staf pengajar UMI akhirnya terhanyut dalam situasi darurat berupa muntah-muntah akibat badan yang tergoncang dari serangan ombak.

Setelah sekira empat jam membelah gelombang laut yang tinggi, sampailah di daratan pulau Sulawesi, tepatnya di wilayah Kota Luwuk. Dengan sisa-sisa tenaga, saya bersama rekan-rekan dosen UMI Makassar menuju mess Bupati Sula di Luwuk untuk beristirahat sejenak sambil menunggu penerbangan ke Makassar pada pukul 11.00 wita menggunakan maskapai Merpati. Akhirnya, sekitar pukul 01.00 siang sampai juga di Makassar dengan kondisi lemah dengan kondisi serasa tulang-belulang remuk akibat terjangan ombak ketika menyebrang dari Sula.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Kota Sehat dan Warga Kota Yang Sehat

Kota Sehat (Healthy City) telah menjadi gerakan baru pemerintah kota di seluruh dunia, terlebih di Indonesia. Gerakan ini dilatarbelakangi kondisi kota pada umumnya yang relatif jauh dari standard sebagai Kota Sehat. Namun yang lebih penting dari Kota Sehat adalah warga kota yang sehat sebagai unsur terpenting dari Kota Sehat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, urbanisasi sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan global maupun kesehatan individu. WHO memperkirakan, pada tahun 2007, lebih dari tiga juta penduduk dunia hidup di kawasan perkotaan. Laju pertambahan populasi penduduk perkotaan melampaui 50 persen, dan proporsi ini akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang. Selain itu, diproyeksikan pada tahun 2030, enam dari sepuluh orang akan menjadi penghuni daerah perkotaan, dan akan meningkat menjadi tujuh dari sepuluh orang di tahun 2050.
Tahun 2009, lebih dari 43 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan, dan dua dari lima kota di Indonesia termasuk miskin; dalam dekade berikutnya, urbanisasi akan membawa masyarakat menuju daerah kumuh di kota. Sebagai akibatnya, pemerintah kota menghadapi tantangan besar; keberhasilan menghadapi tantangan itu sangatlah penting bagi kelangsungan Indonesia, dan juga pertumbuhan ekonomi serta pengurangan kemiskinan. Menurut prediksi, pada tahun 2025 lebih dari 60 persen populasi akan tinggal di pusat kota (World Bank, 2002).
Terkait masalah kesehatan masyarakat di wilayah perkotaan, tercatat pada usia di atas 5 tahun, baik di wilayah kota dan desa, lima besar penyebab kematian masih dipegang oleh penyakit degenerative, yakni, stroke (19,4%), diabetes mellitus (9,7%), hipertensi (7,5%), TB (7,3%) dan penyakit jantung untuk wilayah perkotaan. Sementara di desa adalah, stroke, TB, hipertensi, penyakit saluran anfas bawah dan tumor ganas. (Sumber data : Laporan Riskesdas 2007, DEPKES RI).
Berdasarkan Sensus Sosial-Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2004 tercatat bahwa penduduk yang dapat mengakses air minum dari sumber yang aman (jumlah ini termasuk 42 persen penduduk di perkotaan) hanya sekitar 47 persen. Sementara lebih dari 100 juta rakyat Indonesia masih kekurangan akses terhadap air minum yang aman, dan lebih dari 70 persen dari 220 juta tergantung pada sumber air yang terkontaminasi. Selama jangka waktu delapan tahun, dari 1994 sampai 2002, angka ini meningkat hingga 9 persen di perkotaan. Dari data tersebut, air minum dan sanitasi adalah salah satu isu besar dalam permasalahan pengelolaan lingkungan perkotaan yang akan berimbas pada tingkat kesehatan masyarakat kota antara lain, adalah mudah berjangkitnya diare, tuberkulosis, berbagai flu, dan infeksi lainnya akibat kepadatan penduduk.
Misalnya Kota Medan yang berpenduduk 2 juta lebih, ternyata tidak semua warga kotanya dapat menikmati air bersih. Berdasarkan hasil pemantauan Jaringan Kesejahteraan Masyarakat (JKM) yang dipimpin Delyuzar Harris, masih ada 60 persen penduduk di kota tersebut tidak mendapat akses air bersih dan kebanyakan dari masyarakat berpenghasilan rendah.
Sulitnya warga kota mengakses air bersih dapat menimbulkan persoalan pada aspek kesehatan masyarakat. Penduduk kota yang bermukim di daerah pinggir sungai yang pada umumnya memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Padahal kondisi air yang dipergunakan masyarakat yang bermukim di pinggir sungai tidak layak untuk dipergunakan, terlebih-lebih air sungai untuk kebutuhan air minum.
Menurut pengamatan Delyuzar, selama ini belum ada komitmen yang kuat dari pemerintah untuk menyediakan air bersih untuk masyarakat, padahal air, khususnya air bersih merupakan kebutuhan primer yang mutlak dimiliki semua masyarakat. Buruknya sanitasi dan sulitnya memperoleh air bersih dapat menurunkan tingkat kesehatan masyarakat. Ia mencontohkan masyarakat yang tinggal di dekat sungai, pada umumnya masih banyak mengalami kesulitan untuk memperoleh air bersih, begitu juga dengan sanitasi masih sangat buruk. Pola hidup sehat masih jauh dari yang diharapkan, ini dapat dilihat dari masih sedikitnya tempat buang air besar yang tersedia, sehingga masyarakat lebih banyak buang air besar ke sungai. Sementara masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dipergunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Bila Kota Medan sudah mengalami kesulitan memperoleh air bersih, berbagai penyakit di tengah-tengah masyarakat akan sangat mudah bermunculan, seperti diare, disentri, cacingan dan masih banyak penyakit yang disebabkan air yang tidak bersih.
JKM kemudian bekerjasama dengan ESP menyediakan air bersih kepada masyarakat berpenghasilan rendah dengan menyiapkan kelompok masyarakat dengan master meter dan membangun akses air bersih ke masyarakat dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi tahun 2005-2006 sebanyak 106 Kepala Keluarga di Yong Panah Hijau Kecamatan Medan Marelan. Dengan adanya program tersebut PDAM Tirtanadi pada tahun 2006-2007 mendapat penghargaan sebagai perusahaan terbaik orang miskin di Thailand. Karena program ini dinilai memberikan menfaat yang besar kepada masyarakat, Bank Dunia bersama JKM kembali melanjutkan program ini di Medan Belawan sebanyak 3543 Kepala Keluarga dan tahun 2009-2010, EciAsia bersama JKM kembali melakukan kegiatan yang sama di Medan Belawan, Medan Amplas, Medan Johor, Medan Deli, Medan Labuhan yang total keseluruhan air bersih yang bias diakses sebanyak 3500 Kepala Keluarga. Bila program ini dapat terlaksanakan dengan baik tahun 2013 nanti semua masyarakat di Kota Medan dapat memperoleh akses air bersih dengan mudah atau setidaknya 80 persen penduduk Kota Medan memperoleh air bersih.
Bila Kota Medan memiliki masalah dalam memperoleh air bersih bagi penduduk kota, maka lain halnya dengan Kota Yogyakarta yang kelebihan air akibat hujan. Banyak genangan air hujan di Kota Yogyakarta menyebabkan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta menganjurkan penduduk kota memperbanyak lubang resapan biopori karena praktis dan murah disbanding sistem drainase dan pembuatan sumur resapan. Lubang resapan biopori berfungsi menyimpan air saat musim hujan, maka ketika musim kemarau tidak terjadi kekeringan. Fungsi lain dari lubang biopori itu untuk pembuatan kompos dari daun-daunan. Lubang resapan biopori harus dijaga dan selalu dibersihkan terutama seusai musim hujan, karena ada endapan di dalamnya.
Di seluruh wilayah Kota Yogyakarta saat ini terdapat sekitar 228.000 lubang resapan biopori. Sementara targetnya ke depan, satu penduduk di kota yang berpenduduk sebanyak 500.000 jiwa ini memiliki dua lubang resapan biopori atau harus ada sekitar satu juta lubang resapan biopori untuk mengatasi genangan air hujan.
Berdasarkan hitungan teknis BLH Kota Yogyakarta, satu lubang biopori dengan diameter 10 centimeter (cm) serta kedalaman sekitar satu meter, akan memperluas bidang resapan air menjadi 3.218 cm persegi. Jika terdapat satu juta lubang resapan biopori di Kota Yogyakarta, luas bidang resapan air akan mencapai 321.800 meter persegi, atau setara dengan satu persen dari luas wilayah kota ini. Atau setidaknya ada 321,8 meter kubik air yang dapat ditampung setiap satu kali hujan. Volume air yang bisa ditampung oleh satu juta lubang resapan biopori itu, setara dengan kebutuhan air bersih 2.145 orang. Berdasarkan standar nasional, kebutuhan air bersih sebanyak 150 liter per orang per hari.
Semoga praktek yang baik dilakukan di Medan dan di Yogyakarta dapat mengilhami pemerintah kota dan penduduk kota lainnya di seluruh Indonesia dalam hal kepedulian pada sumber air bersih. Langkah kecil ini akan dapat mendukung Gerakan Kota Sehat dan Warga Kota Yang Sehat terhadap pemenuhan air bersih penduduk kota.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Menganalisa Fenomena Masyarakat Dengan Pendekatan Ilmu Kesmas

Pengantar Bedah Buku

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS: Ali Imran: 190-191)

Publikasi buku merupakan upaya dalam memberikan kontribusi dalam upaya pencerdasan umat dan segenap komponen bangsa. Sebagai seseorang yang berkecimpung dalam dunia kampus, buku adalah wahana utama dalam proses transfer ilmu pengetahuan. Dorongan itulah yang melandasi menerbitkan sebuah buku dengan judul “Orang Sehat Dilarang Sakit: Current Issue Kesehatan Masyarakat Kontemporer”.
Buku ini sebenarnya berisi kumpulan 32 tulisan yang sudah pernah dipublikasi pada Koran lokal Makassar, yakni Harian Fajar dan Harian Tribun Timur, dan beberapa lainnya pada Majalah BaKTINews dari tahun 2007 hingga awal 2010. Semua tulisan terisi isu-isu terkini dan teraktual yang terjadi pada rentang waktu tersebut sehingga diberi label “kontemporer” oleh sang editor buku.
Tulisan-tulisan aktual tentang isu kesehatan masyarakat terdorong oleh keperluan pengajaran pada mata kuliah Seminar Pembangunan Kesehatan. Pada mata kuliah tersebut berisi “Current Issue Kesehatan Masyarakat” yang berorientasi pada pengayaan mahasiswa terhadap isu-isu kesehatan masyarakat yang terjadi sehingga mahasiswa dapat mengaitkan antara teori-teori kesehatan masyarakat dengan fenomena actual kesehatan masyarakat. Dengan mempublikasikan pada media lokal maka sekaligus berkontribusi pada pengabdian masyarakat berupa ulasan-ulasan dan analisis singkat sehingga diharapkan bisa dapat menjadi perhatian pemerintah agar dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.
Pada bagian pertama Isu Epidemiologi Penyakit Menular dan Tidak Menular berisi sembilan tulisan dengan judul: Waspada pandemic flu babi; Flu singapura dan epidemiologi global; Nobel untuk penemu virus HIV/AIDS; Sepakbola dan HIV/AIDS; Menjelang 50 tahun pemberantasan malaria; MUI, rokok dan kesehatan; kedelai dan ancaman kesehatan masyarakat; konstitusionalisasi penanggulangan penyakit AIDS; serta Ekspektasi eksistensi stroke center Makassar.
Pada bagian kedua Isu Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Individu terdiri dari Sembilan tulisan dengan judul: Kesehatan jiwa mantan caleg; Ponari, sebuah fenomena kesehatan masyarakat; kontroversi temuan bakteri beracun susu formula; susu formula bebas bakteri?; penyelamatan hutan untuk kesehatan masyarakat; masalah kesehatan anak usia sekolah; puasa agar sehat; obat illegal merebak, kesehatan konsumen terancam; dan Dibalik Perayaan 100 hari kematian Soeharto.
Pada bagian ketiga Isu Administrasi dan Kebijakan Kesehatan terdiri dari sembilan tulisan dengan judul: Kesehatan dan UU Pengelolaan Sampah; Menimbang kebijakan depopulasi flu burung ala Menkes; Kasus Prita, kuasa modal dan konsumen kesehatan; menuju Indonesia Sehat dengan asuransi kesehatan; merdeka dari kesakitan; mewujudkan rumah sakit modern nan murah; kebijakan pembangunan kesehatan di KTI; ironi kesehatan gratis; serta komisi ombudsman dan pelayanan kesehatan.
Pada bagian terakhir Isu Gizi dan Kesehatan berisi lima tulisan berjudul : Implikasi syarat kesehatan para capres; Gizi buruk mengancam kesehatan masyarakat; Harga BBM naik, waspada gizi buruk; Menyoal perbaikan gizi masyarakat; serta Enzim babi dalam vaksin meningitis jemaah haji.
Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada pemimpin redaksi pada dua harian lokal Makassar (Fajar dan Tribun Timur) atas kesediaan memuat setiap tulisan yang saya kirimkan kepada media tersebut, termasuk kepada redaksi BaKTINews atas kerjasamanya.
(Materi acara Bedah Buku “Orang Sehat Dilarang Sakit”, yang digelar Prodi Kesmas FKM UMI di Auditorium Al Jibra Kampus UMI, Kamis, 30 Desember 2010).

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Landasan Konseptual, Kajian Teoritis dan Analisis Data

UKM LDK-LDM UMI memberi kepercayaan kepada saya membawakan materi “Landasan Konseptual, Kajian Teoritis dan Analisis Data” pada Pelatihan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa pada tanggal 6 November 2010. Sebagaimana diketahui, yang tergolong karya tulis ilmiah adalah skripsi, tesis, disertasi dan laporan-laporan penelitian lainnya. Karena segmen peserta pelatihan kali ini adalah mahasiswa program sarjana (strata-1), maka materi yang disajikan berkisar pada kebiasaan dalam penulisan skripsi mahasiswa.

Cara Menyusun Landasan Konseptual
Landasan Konseptual sering juga disebut Kerangka Teoritis. Sebelum menyusun Landasan Konseptual, perlu terlebih dahulu mengetahui tentang Konsep itu sendiri. Menurut Soekidjo Notoadmodjo, pengertian Konsep adalah abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal khusus. Konsep merupakan abstraksi, maka konsep tidak dapat langsung diamati atau diukur. Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruk atau yang lebih dikenal dengan nama variabel. Jadi variabel adalah simbol atau lambang yang menunjukkan nilai atau bilangan dari konsep. Variabel adalah sesuatu yang bervariasi (Notoadmodjo, 2005:68). Dengan kata lain, variabel merupakan karakteristik yang nilai datanya bervariasi dari satu pengukuran ke pengukuran berikutnya (Hastomo, 2001:57).
Contoh sederhana adalah Konsep SEHAT. Untuk mengukur seseorang dikatakan SEHAT, biasanya seseorang diperiksa tekanan darah, denyut nadi, hb darah. Untuk proses penelitian, maka tekanan darah, denyut nadi, hb darah adalah variabel-variabel yang akan diukur untuk mengetahui tingkat kesehatan seseorang.
Landasan Konseptual/Kerangka Teoritis dibuat berupa skema sederhana yang menggambarkan secara singkat proses pemecahan masalah yang dikemukakan dalam penelitian. Skema sederhana yang dibuat kemudian dijelaskan secukupnya mengenai mekanisme kerja faktor-faktor yang timbul agar memperoleh gambaran jalannya penelitian secara keseluruhan dapat diketahui secara jelas dan terarah. Kerangka teoritis juga akan membantu pemilihan konsep-konsep yang diperlukan guna pembentukan hipotesisnya (Narbuko & Ahmadi, 2009:140).
Setelah mengetahui pengertian tentang Konsep, maka dalam menyusun Landasan Konseptual suatu karya ilmiah, lebih awal harus mengetahui konsep yang akan diteliti beserta variabel-variabelnya.

Cara Melakukan Kajian Teoritis
Kajian teoritis sering juga disebut kajian pustaka. Tujuan dilakukannya kajian teoritis adalah untuk menelusuri yang telah dilakukan peneliti sebelumnya pada bidang penelitian yang sama. Kajian teoritis biasanya diperuntukkan untuk memperoleh informasi mengenai penelitian sejenis yang telah dilakukan peneliti lain sehingga bisa memperkuat kajian teoritis dan mempertajam metodologi.
Menurut Sudarwan Hanim (2002: 105), kajian teoritis juga berguna untuk menggali teori-teori yang telah berkembang, mencari metode-metode serta teknik-teknik penelitian, memperoleh orientasi yang lebih luas dalam permasalahan yang dipilih, serta menghindari terjadinya duplikasi yang tidak diinginkan termasuk kemungkinan tudingan plagiatisme.
Sumber kajian teoritis yang umum dipakai dalam penulisan karya ilmiah adalah: buku, jurnal, bulletin, majalah, laporan penelitian, laporan periodik, prosiding hasil seminar, annual review, dan leaflet serta website di internet. Jenis buku berbeda pula seperti buku teks (textbook), buku tahunan (yearbook), buku pegangan (handbook), modul, diktat atau draft buku. Sementara jurnal juga terbagi atas : jurnal terakreditasi dan jurnal tidak terakreditasi, yang diterbitkan oleh perguruan tinggi, organisasi profesi atau lembaga penelitian.
Pencarian bahan pustaka untuk kajian teoritis biasanya dilakukan pada perpustakaan, baik perpustakaan umum maupun perpustakaan khusus (special libraries). Pencarian bahan pustaka pada perpustakaan khusus biasanya relatif mudah karena jumlah judul relatif terbatas. Lain halnya dengan perpustakaan umum yang memiliki banyak bahan pustaka mengharuskan peneliti menguasai teknik pencarian bahan pustaka seperti sistem klasifikasi menurut Dewey (Dewey Decimal Classification system) berdasarkan 10 kelompok: Karya Umum, Filsafat, Agama, Pengetahuan Sosial, Pengetahuan Bahasa, Pengetahuan Murni, Pengetahuan Praktis, Kesenian, Kesusasteraan, dan Sejarah-Geografi-Biografi.
Seiring dengan kemajuan era digital, penelusuran bahan pustaka banyak juga dilakukan dengan berselancar di dunia maya mengunjungi website-website tertentu yang menayangkan E-book, E-journal dan abstrak penelitian yang dapat diunduh dan di-download. Beberapa perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia telah menerapkan E-libraries yang memungkinkan seorang peneliti menelusuri bahan pustaka dari internet, seperti Perpustakaan Universtas Indonesia (UI). Beberapa alamat website yang dapat diunduh untuk mendapatkan bahan pustaka berupa hasil penelitian yang dimuat pada e-journal dan e-book, lihat lampiran.

Bentuk-Bentuk Analisis Data
Proses Analisis Data merupakan kelanjutan dari proses pengumpulan dan pengolahan data. Data yang sudah dikumpulkan dan diolah masih berupa data mentah (raw data) sehingga masih harus dianalisis agar data tersebut memiliki arti dalam memecahkan masalah penelitian. Data yang dimaksud disini adalah kumpulan angka dan/atau huruf dari hasil penelitian berdasarkan karakteristik yang diteliti. Misalnya data berat badan dalam suatu kelompok orang, ada yang beratnya 50 kg, 60, kg, 70 kg dan seterusnya.
Secara sederhana, untuk pendekatan kuantitatif, ada tiga bentuk-bentuk analisis data menurut Sutanto Priyo Hastomo (2001:60) yakni analisis univariat (analisis deskriptif), analisis bivariat (analisis analitik) dan analisis multivariat. Analisis univariat adalah bertujuan untuk menjelaskan dengan cara mendeskripsikan karakteristik masing-masing variable yang diteliti. Bentuknya tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai mean (rata-rata), median, standard deviasi dan inter kuartil range, minimal dan maksimal.
Sementara Analisis Bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel, misalnya hubungan antara berat badan dengan tekanan darah. Untuk mengetahui hubungan dua variabel tersebut biasanya digunakan pengujian statistik. Jenis uji statistik yang digunakan sangat tergantung jenis data/variabel yang dihubungkan. Terakhir adalah Analisis Multivariat bertujuan untuk menghubungkan antara beberapa variabel independen dengan satu variabel dependen. Jenis Analisis Multivariat yang kerap digunakan adalah analisis regresi linier ganda dan analisis regresi logistik ganda.
Metode kuantitatif lainnya yang dikenal adalah analisis korelasi, analisis korelasi berganda dan analisis korelasi parsial. Analisis korelasi adalah suatu teknik untuk menentukan sampai sejauh mana terdapat hubungan antara dua variable. Sementara analisis korelasi berganda adalah suatu teknik untuk menentukan hubungan antara lebih dari dua variable. Terakhir, analisis korelasi persial adalah teknik untuk menentukan mana diantara berbagai variable independen mempunyai pengaruh terbesar terhadap variable dependen dengan catatan apabila diketahui memang ada hubungan antara variable-variabel tersebut (Nabruka & Ahmadi, 2009: 156-7).
Untuk pendekatan kualitatif, menurut Burhan Bungin (2010:83) dikenal dua bentuk analisis yakni analisis deskriptif kualitatif dan analisis verifikatif kualitatif. Kedua bentuk tersebut dapat digunakan secara bersama-sama atau secara terpisah. Kedua bentuk analisis tersebut memberi gambaran bagaimana alur logika analisis data pada penelitian kualitatif sekaligus memberi masukan terhadap bagaimana teknik analisis data kualitatif digunakan.
Selanjutnya Bungin membagi atas 6 (enam) teknik analisis data kualitatif dalam penelitian kualitatif yakni teknik analisis isi (content analysis), teknik analisis domain (domain analysis), teknik analisis taksonomik (taxonomic analysis), teknik analisis komponensial (componential analysis), teknik analisis tema kultural (discovering cultural themes analysis), dan teknik analisis komparatif konstan (constant comparative analysis).
Teknik analisis isi (content analysis) mencakup upaya-upaya klasifikasi lambang-lambang yang dipakai dalam komunikasi, menggunakan criteria dalam klasifikasi, dan menggunakan teknik analisis tertentu dalam membuat prediksi. Content analysis selalu menampilkan tiga syarat yakni obyektifitas, pendekatan sistematis dan generalisasi. Cara kerjanya, peneliti memulai analisisnya dengan menggunakan lambang-lambang tertentu, mengklasifikasi data tersebut dengan kriteria-kriteria tertentu serta melakukan prediksi dengan teknik analisis tertentu pula.
Teknik analisis domain (domain analysis) digunakan untuk menganalisis gambaran obyek penelitian secara umum atau ditingkat permukaan, namun relatif utuh tentang obyek penelitian tersebut. Teknik analisis ini banyak dipakai dalam penelitian yang bertujuan eksplorasi untuk memperoleh gambaran seutuhnya dari obyek yang diteliti tanpa harus diperincikan secara detail unsur-unsur yang ada dalam keutuhan obyek penelitian tersebut. Sehubungan dengan bervariasinya domain, maka peneliti biasanya menggunakan Hubungan Semantik (semantic relationship) dari Spradley yang bersifat universal, seperti jenis, ruang, sebab-akibat, lokasi kegiatan, fungsi, urutan, atribut, dan rasional.
Teknik analisis taksonomik (taxonomic analysis) digunakan apabila peneliti menginginkan suatu hasil dari analisis yang terfokus pada suatu domain atau sub-sub domain tertentu. Teknik ini menggunakan pendekatan non-kontras antara elemen, terfokus pada domain-domain tertentu kemudian memilih domain tersebut menjadi sub-sub domain serta bagian-bagian yang lebih khusus dan terperinci yang umumnya merupakan rumpun yang memiliki kesamaan. Teknik ini akan menghasilkan hasil analisis yang terbatas pada satu domain tertentu dan hanya berlaku pada satu domain tersebut pula.
Teknik analisis komponensial (componential analysis) menggunakan pendekatan kontras antar elemen. Teknik inidigunakan dalam analisis kualitatif untuk menganalisis unsure-unsur yang memiliki hubungan-hubungan yang kontras satu sama lain dalam domain-domain yang telah ditentukan untuk dianalisis secara lebih terperinci. Unsure-unsur atau elemen-elemen yang kontras akan dipilah oleh peneliti dan selanjutnya akan dicari term-term yang dapat mewadahinya. Teknik analisis ini menggunakan beberapa tahap: tahap penggelaran hasil observasi dan wawancara, tahap pemilahan hasil observasi dan wawancara dan tahap menemukan elemen-elemen kontras.
Teknik analisis tema kultural (discovering cultural themes analysis) mencoba mengumpulkan sekian banyak tema-tema, fokus budaya, etos budaya, nilai dan simbol-simbol budaya yang terkonsentrasi pada domain-domain tertentu. Pada umumnya setiap masyarakat memiliki sejumlah tema yang menjadi orientasi kognitifnya. Misalnya kalau menganalisis faktor-faktor penyebab keterbelakangan umumnya masyarakat desa, tema yang tampak adalah bahwa masyarakat desa itu tidak maju (terbelakang), miskin dan sebagainya. Teknik ini berusaha menemukan hubungan-hubungan yang terdapat pada domain-domain yang di analisis sehingga akan membentuk suatu kesatuan yang holistik, terpola dalam suatu complex pattern yang akhirnya akan menampakkan ke permukaan akan tema-tema atau faktor yang paling mendominasi domain tersebut dan mana yang kurang mendominasi.
Teknik analisis komparatif konstan (constant comparative analysis) digunakan untuk membandingkan kejadian-kejadian yang terjadi saat peneliti menganalisa kejadian tersebut dan dilakukan secara terus menerus sepanjang penelitian itu dilakukan. Tahapannya, tahap membandingkan kejadian yang dapat diterapkan pada setiap kategori, tahap memadukan kategori-kategori serta cirri-cirinya, tahap membatasi lingkup teori dan tahap menulis teori. Teknik ini yang paling ekstrem menerapkan analisi deskriptif, karena betul-betul menerapkan logika induktif dalam analisisnya.
Dalam riset epidemiologi, bentuk analisa data yang sering digunakan adalah metode deskriptif dan metode eksploratif. Metode deskriptif menggambarkan dalam ukuran-ukuran kuantitatif tentang paparan, penyakit maupun karakteristik lainnya dari populasi. Sedang metode eksploratif menjajaki atau memperoleh pandangan baru tentang suatu fenomena yang tidak/belum banyak diketahui sebelumnya. Kedua metode tersebut tidak memiliki hipotesis tentang hubungan-hubungan variable karena bukan untuk menguji hubungan tetapi mengeksplor suatu fenomena baru. Bentuk analisis data dalam metode deskriptif meliputi perhitungan proporsi, persentase, ukuran tendensi sentral (mean, median, mode), disperse (deviasi standard, range, persentil), insidensi kumulatif (cumulative incidence), laju insidensi (incidence density, incidence rate), prevalensi, population attributable rate (PAR), dan sebagainya (Murti, 2003:78).
Penutup
Makalah ini hanya berbentuk garis besar tentang Landasan Konseptual, Kajian Teoritis dan Analisis Data. Karena sesungguhnya materi tersebut hanya bisa dibahas selama enam bulan (satu semestier perkuliahan) sehingga tidak cukup dibahas dalam satu hari, apalagi dalam waktu dua jam.
Referensi

Bhisma Murti, 2003, Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi, Yogyakarta: Gajah Mada University

Burhan Bungin, ed. 2003, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Jakarta: RajaGrafindo Persada

Cholid Narbuko & Abu Achmadi, 2009, Metodologi Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara

Soekidjo Notoatmodjo, 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta

Sudarwan Danim, Prof Dr., 2002, Menjadi Peneliti Kualitatif, Bandung: Pustaka Setia

Sutanto Priyo Hastono, 2001, Modul Analisis Data, Depok: FKM UI

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | Tinggalkan Komentar

Ragam Penyakit Akibat Aktifitas Blogging

Perhelatan Pesta Blogger 2010 mengangkat tema sentral “Merayakan Keragaman” (Celebrating Diversities) dan akan digelar akhir Bulan Oktober 2010 di Jakarta. Dilihat dari berbagai aspek, Blogger Indonesia memang beragam, mulai dari aspek bahasa (berbahasa daerah, Bahasa Indonesia, bahasa Inggris), maupun tema dan konten blog. Sebagai blogger yang memiliki disiplin ilmu kesehatan, maka tema Merayakan Keragaman memandangnya dari sudut pandang kesehatan berupa keragaman penyakit yang berpotensi diderita setiap blogger.
Pada bulan Januari 2010, para ahli dari Inggris menghubungkan waktu-waktu duduk yang panjang dengan kemungkinan yang lebih besar terkena penyakit. Para peneliti dari Australia pada bulan yang sama juga melaporkan bahwa setiap jam yang dihabiskan untuk menonton televisi terkait dengan 18 persen meningkatnya resiko kematian akibat penyakit jantung, mungkin karena waktu-waktu itu dihabiskan dengan duduk. The Sun juga pernah memuat pernyataan Professor Richard Beasley dari Wellington Hospital di Selandia Baru yang menyatakan bahwa ancaman bahaya akan menghampiri seseorang bila kerja delapan jam tiap hari dengan hanya berkutat di sekitar meja, atau menghabiskan tiga jam berturut-turut dengan sekedar duduk mengoperasikan laptop. Dengan demikian, para blogger yang menghabiskan banyak waktu dengan duduk akan rentan terkena penyakit.
Ragam penyakit yang bisa diderita para blogger akibat kelamaan duduk didepan komputer, laptop, handphone sebagai perangkat untuk kegiatan blogging seperti penyakit batu ginjal, wasir, sembelit, maag, liver dan penyakit lainnya. Penyakit batu ginjal dapat menyerang para blogger bila seringkali duduk terlalu, sering menahan buang air kecil dan kurang mengkonsumsi air putih. Penyakit batu ginjal muncul bila selama blogging bila makanan yang dikonsumsi memiliki kalsium tinggi dan kaya akan oksalat yang susah larut ke dalam organ tubuh sehingga terjadi infeksi saluran kemih yang mengakibatkan timbulnya penyumbatan di urin.
Sedangkan penyakit wasir atau ambeien dan sembelit dapat menyerang para blogger bila ketika duduk yang terlalu lama tidak diimbangi dengan minum air yang banyak dan buah serta kurang bergerak. Kondisi sembelit terjadi apabila susah buang air besar meski perut terasa sudah penuh. Ketika dipaksakan buang air besar maka terjadilah pendarahan pada dubur dan timbul benjolan yang menandai penyakit wasir.
Blogger yang kurang memperhatikan gizi makanan yang dikonsumsinya, jarang tidur dan online hingga larut malam maka akan rentan terkena penyakit liver. Ciri-ciri klinis orang yang terkena liver adalah urine berwarna sangat coklat, cepat merasa capek, dan hilang selera makan. Seorang blogger yang tidak memperhatikan waktu kerja hingga online sampai larut malam dapat mengakibatkan sindrom mata kering. Penyakit seperti insomnia dapat juga terjadi akibat tubuh yang kelelahan yang kronis akibat duduk terlalu lama yang berujung pada seorang blogger mengalami gangguan tidur. Apabila makan tidak teratur, atau sering terlambat makan atau bahkan makan dalam jumlah makan ketika rasa lapar tiba maka akan memicu penyakit maag. Apalagi bila makanan yang dikonsumsi terlalu asam atau terlalu pedas.
Sementara penyakit yang paling sering menimpa para blogger adalah Computer Eye Syndrome atau asthenopia atau kelelahan mata dan Carpal tunnel syndrome (CTS). Computer Eye Syndrome adalah suatu keadaan mata akibat penggunaan komputer yang berlebihan seperti lelah, nyeri, penglihatan kabur, sakit kepala dan sebagainya. Gejala sindrom ini adalah mata perih, sensitif terhadap cahaya, nyeri di leher dan punggung. Sindrom mata akibat komputer pernah diperingatkan American Optometric Association.
Sedang Carpal tunnel syndrome (CTS) adalah sebuah penyakit yang disebabkan karena terganggunya saraf tengah karena tekanan yang terjadi pada bagian pergelangan tangan hal ini menimbulkan rasa sakit, nyeri dan melemahnya otot otot pada bagian pergelangan tangan. CTS yaitu sebuah gangguan yang terjadi pada pergelangan tangan karena sirkulasi darah tidak berjalan dengan benar akhirnya banyak lemak yang menumpuk disana dan menyebab rasa sakit di sekitar pergelangan. Sebuah penelitian terhadap pertumbuhan badan juga menunjukkan bahwa ketidak aktifan fisik dalam waktu yang lama meningkatkan resiko terkena penyakit jantung, diabetes, kanker dan obesitas.
Pada keyboard komputer dan kursi serta alat-alat kerja lainnyapun tersimpan kuman penyakit. Sebuah penelitian di Inggris yang dilakukan oleh seorang ahli yang disewa oleh Majalah Which Computing pernah melaporkan beberapa keyboard di sebuah perkantoran lima kali menyimpan lebih banyak jumlah kuman ketimbang sebuah kamar kecil. Penelitian ini mengungkap beragam jenis bakteri berbahaya seperti Escherichia coli, coliform, staphylococcus aureus, yang menyebabkan beragam infeksi mulai dari masalah diare kulit hingga radang paru-paru atau pneumonia. Sementara peneliti dari University Of Arizona menyatakan keyboard masih cukup bersih ketimbang kursi yang duduki. Para ahli mikrobiologi menemukan sebuah kursi bisa menyimpan 10 juga mikroba, sedangkan rata-rata sebuah kantor bisa menyimpan 20.000 mikroba pada setiap permukaan 1 inci persegi. Begitu banyaknya jumlah mikroba ini tentu tidak terlepas dari kebiasaan buruk karyawan dalam memperlakukan tempat kerja.
Peneliti dari Australia’s Queensland University Of Technology menemukan dampak alat Printer Lases yang mirip asap rokok. Satu dari tiga printer yang diteliti mengeluaran semacam partikel merugikan. Partikel ini bisa terhirup dan masuk paru-paru dan memicu masalah pernafasan. Sementara tim ahli dari London’s Imperial College menyatakan medan listrik yang timbul dari alat-alat kantor bisa memicu sakit kepala dan masalah lainnya. Keith Jamieson, salah satu peneliti London’s Imperial College, mengatakan bahwa medan listrik punya pengaruh kuat terhadap udara sehingg di belakang monitor komputer selalu dikotori debu. Hal sama juga berlaku pada kulit dan paru-paru manusia . Ini dapat meningkatkan penyerapan racun yang harus dinetralisir tubuh.
Melawan Sitting Disease
James Levine, MD, PhD, seorang professor of medicine di Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, dan penulis Move a Little, Lose a Lot mengatakan bahwa manusia berevolusi sebagai wujud yang berjalan, menjelajahi dunia dengan kaki-kaki kita. Hal yang paling aneh di dunia ini adalah bahwa orang-orang menghabiskan seluruh hari mereka meringkuk di kursi. Ini merupakan sebuah bentuk dari jebakan fisik. Maka Levine pun menyarankan: Lawan penyakit duduk (Sitting Disease) dengan mengambil langkah-langkah untuk menjadi lebih aktif secara fisik.
Dalam posisi duduk terlalu lama, tungkai dan kaki jarang digerak-gerakkan maka aliran darah mengalir dengan lemah maka kondisi pipa pembuluh darah balik terancam. Kondisi darah dan atau dinding pipa pembuluh darah baliknya berisiko untuk terjadinya DVT (deep vein thrombosis). Deep vein thrombosis biasanya berasal dari pembuluh darah tungkai dan kaki akibat terbentuknya bekuan darah, hasil kumpulan sel-sel yang berisiko untuk luruh, lalu hanyut terbawa aliran darah. Menurut Dr Steven Galson, di Amerika Serikat tercatat tak kurang ada 100 ribu kasus DVT setiap tahunnya (Kompas.com).
Untuk itu, setiap satu atau dua jam dianjurkan membiasakan untuk bangkit berdiri dari posisi duduk. Lakukan pergerakan tungkai dan kaki sambil berjalan mondar-mandir di ruang tempat blogging. Maksud dari aktifitas ini agar tidak sampai terjadi aliran darah yang tidak lancar, selama dalam posisi duduk tanpa bergerak.
Keragaman ancaman penyakit yang dapat menyerang para blogger tentunya bukan untuk dirayakan, tapi dicegah dengan melakukan tip-tip ringan seperti disebutkan diatas. Selamat merayakan keragaman melalui ajang Pesta Blogger 2010!

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , | Tinggalkan Komentar

Perguruan Tinggi Islam dan Bank Syariah

Sebagai dosen yang bernaung dibawah yayasan wakaf masyarakat muslim Sulawesi Selatan, penulis mengidam-idamkan perguruan tinggi berlabel Islam aktif menggunakan bank syariah sebagai tempat menyimpan uang dan transaksi keuangan lainnya. Pada perguruan tinggi Islam pun, memang tidak semua dosen mengerti tentang mekanisme bank syariah dan perbedaannya dengan bank konvensional. Pengetahuan tentang bank syariah biasanya terbatas pada para dosen ekonomi syariah secara khusus, dan dosen-dosen pada bidang studi yang berhubungan dengan ilmu ekonomi.
Alasan menggunakan perbankan syariah sebagai transaksi keuangan utama disamping alasan keagamaan, juga karena market share bank syariah di Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim saat ini, relatif masih kecil. Berdasarkan data BI Februari 2007, masih 1,6 ‎‎% dari total asset bank secara nasional atau baru sekitar 2 juta orang. Jumlah umat Islam potensial untuk ‎menjadi customer bank syariah lebih dari 100 juta orang. Padahal pada tahun 2005 silam, Gubernur BI ketika itu, Burhanuddin Abdulah pernah menegaskan bahwa perbankan syariah di masa depan, diperkirakan akan semakin cerah. Pada tahun 2011 diperkirakan aset bank syariah mencapai Rp 171 triliun dengan share bank syariah sekitar 9,10 persen dari total bank di Indonesia dengan jumlah kantor cabang diperkirakan mencapai 817 buah.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Laporan Bank Indonesia tahun 2005, berdasarkan hasil sebuah survey BI menyebutkan bahwa selama kurun waktu 2001-2004 kesadaran masyarakat untuk menggunakan jasa perbankan syariah semakin meningkat dari tahun ke tahun, dengan pertumbuhan yang signifikan. Peningkatan itu terutama terlihat dari segi pangsa pasar (market share), volume usaha, ekspansi pembiayaan, dan asset.
Kecilnya market share bank syariah tidak terbantu dengan maraknya perbankan konvensional membuka unit-unit layanan syariah. Bank-bank konvensional itu baik milik pemerintah maupun milik swasta. Bank milik pemerintah sebutlah misalnya BNI Syariah, Bank Syariah Mandiri, sementara bank milik swasta seperti BII Syariah, Bank Danamon Syariah, IFI Syariah. Sejak keluarnya Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998, bank syariah memang berkembang cukup pesat. Sebelumnya, selama 7 tahun hanya satu bank syariah bernama Bank Muamalat Indonesia yang sukses melewati krisis moneter global pada tahun 1997-1998.
Bank Mandiri adalah bank konvensional pertama yang memiliki unit perbankan syariah bernama Bank Syariah Mandiri, selanjutnya diikuti oleh berbagai bank dengan kantor cabang berbentuk syariah. Bahkan ketika itu sebuah bank asing besar juga ikut membuka Unit Syariah di Indonesia, yakni Hongkong Shanghai Bank Corporation (HSBC). Hingga akhir triwulan III-2007, terdapat 3 Bank Umum Syariah dan 25 Unit Usaha Syariah. Di samping itu, telah tercatat pula di Bank Indonesia sebanyak 109 lembaga Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), serta lebih dari 3.000 lembaga Baitul Maal wat Tamwil (BMT) sebagai salah satu alternatif lembaga keuangan syariah mikro (Gamal, 2007).
Laporan BI, 2004, sampai akhir 2004 tercatat ada 3 bank umum syariah, 15 unit usaha syariah, 355 KC/KCP dan 89 BPRS. Total aset bank syariah pada akhir November 2003 sebesar Rp 7,8 triliun naik menjadi Rp 14 triliun pada akhir 2004. Jumlah DPK (dana pihak ketiga) mencapai Rp 10.6 triliun atau meningkat 104,6 %, sedangkan dana yang berhasil disalurkan sebesar 10,9 triliun atau meningkat sebesar 97 %. Diperkirakan total aset bank syariah secara nasional pada akhir 2005 mencapai Rp 20 sampai Rp 25 triliun. Kuantitas yang terus bertambah dan adanya kenaikan total aset yang signifikan tersebut, menjadi indikator pesatnya laju perkembangan bank syariah.
Selama ini Bank Indonesia belum maksimal mengembangkan dan mempromosikan bank syariah meski telah mencanangkan Enam Pilar Program Akselerasi Pengembangan Perbankan Syariah Nasional 2008. Bila Bank Indonesia mau mengalokasikan dana untuk promosi, pendidikan dan pelatihan tentang bank syariah bagi ulama dan dai di seluruh Indonesia, niscaya market share bank syariah bisa terangkat. Misalnya, bila dai dan ulama jumlahnya sekitar 100.000 dilatih secara terprogram dan berkelanjutan, maka ada sekitar 100.000 masjid di seluruh Indonesia diisi dengan kegiatan dakwah bertema bank syariah. Apalagi bila setiap masjid-masjid terdapat konter-konter bank syariah yang bisa langsung melayani jamaah masjid. Maka bisa diprediksi asset bank syariah bisa diperkirakan meningkat secara fantastis hingga 500 %.
Peran Perguruan Tinggi
Agustianto, Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), menganalisa ada delapan faktor penyebab rendahnya market share bank syariah. (1) tingkat pemahaman dan pengetahuan ‎umat tentang bank syariah masih sangat rendah, bahkan sebagian ustaz tidak memiliki ilmu yang memadai ‎tentang ekonomi Islam (ilmu ekonomi makro-moneter) masih berpandangan miring ‎tentang bank syariah; (2) belum ada gerakan bersama dalam skala besar untuk ‎mempromosikan bank syariah; (3) terbatasnya pakar dan SDM ekonomi ‎syari’ah; (4) peran pemerintah masih kecil dalam mendukung dan ‎mengembangkan ekonomi syariah; (5) peran ulama, ustaz dan dai’ masih relatif ‎kecil. Ulama yang berjuang keras mendakwahkan ekonomi syariah selama ini terbatas ‎pada DSN dan kalangan akademisi yang telah tercerahkan. (6) para akademisi di berbagai perguruan tinggi, termasuk ‎perguruan Tinggi Islam belum optimal. (7), peran ormas Islam juga belum ‎optimal membantu dan mendukung gerakan bank syariah. Terbukti mereka masih ‎banyak yang berhubungan dengan bank konvensional. (8) Bank Indonesia dan bank-bank syariah belum menemukan strategi jitu dan ‎ampuh dalam memasarkan bank syariah kepada masyakat luas.‎
Melihat peta permasalahan bank syariah diatas, maka peran perguruan tinggi (terutama perguruan tinggi Islam) untuk mengatasi permasalahan bank syariah adalah penyediaan sumber daya manusia (SDM) perbankan syariah yang amanah, berkualitas dan professional. Saat ini, pada level menengah ke atas dalam manajemen perbankan syariah masih didominasi hasil didikan ekonomi konvensional sehingga masih bias dalam tataran operasional dan manajerial. Sementara SDM perbankan syariah yang dibutuhkan perpaduan penguasaan perbankan modern dengan pengetahuan fiqih perbankan sehingga mampu berinovasi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan khas perbankan syariah.
Sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam lembaga ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia adalah SDM yang professional dan inovatif terhadap produk-produk keuangan syariah. Karena itu pengembangan pendidikan ilmu ekonomi syariah sudah menjadi kebutuhan pasar. Seyogyanya bukan hanya perguran tinggi Islam yang memiliki Program studi ekonomi dan keuangan syariah, melainkan harus dibuka pada lembaga perguruan tinggi umum untuk memenuhi kebutuhan ahli ekonomi dan keuangan Syariah.
Untuk mengatasi kendala SDM perbankan syariah yang profesional dari sisi pendidikan, maka langkah konkret yang menjadi perhatian adalah: Pertama, penyediaan infrastruktur pendidikan keuangan syaraiah meliputi sarana dan prasarana pendidikan yang standar seperti tenaga pengajar, laboratorium bank mini, perpustakaan, dan perangkat penunjang lainnya baik perangkat lunak maupun perangkat keras. Kedua, memperkuat jaringan antar perguruan tinggi penyelenggaran program studi ekonomi syariah. Jaringan ini untuk memantapkan mekanisme perkuliahan, pengembangan kurikulum ekonomi Islam dan syllabus, penelitian dan kajian, serta model pengabdian masyarakat di lembaga keuangan syariah. Kedua, adalah memperbesar kemitraan perguruan tinggi dengan lembaga-lembaga keuangan syariah. Kemitraan ini berhubungan magang didalam industri keuangan syariah dan penyesuaian kurikulum yang diadaptasi dari tuntutan di dunia kerja keuangan syariah.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Keajaiban Bank Syariah

November 2006, saya memilih kembali mengajar di kampus hijau, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, setelah tiga tahun menempuh studi magister epidemiologi di Universitas Indonesia, Jakarta. Kembalinya ke almamater berarti saya kembali pula akan menumpang tinggal di rumah pamannya sang suami yang kebetulan kosong di wilayah Daya.
Meski menyandang predikat seorang dosen, tidak berarti kebutuhan sandang, pangan dan papan sudah terpenuhi. Apalagi dengan status sebagai dosen yayasan pada perguruan tinggi swasta yang memiliki standard gaji dosen masih dibawa rata-rata untuk bisa dikatakan “sejahtera”. Saat itu, total gaji yang saya terima perbulan sekitar Rp 900 ribu dengan golongan 3A dengan pangkat akademik Penata Muda.
Dengan gaji sekecil itu, saya tidak berani berpikir untuk segera memiliki rumah sendiri, meski dengan cara kredit menggunakan fasilitas kredit rumah dari perbankan. Rasanya sesuatu yang mustahil membayangkan memiliki rumah milik sendiri sementara tuntutan sandang dan pangan yang kian meningkat karena kehadiran dua orang anak sejak menempuh studi magister. Pesimisme untuk memiliki rumah sendiri juga dilandasi oleh situasi sang suami melepaskan pekerjaan di Jakarta dan memilih kembali bersama saya ke Makassar sehingga praktis suami kembali menjadi “pengangguran intelektual”.
Datangnya Keajaiban
Dorongan untuk memiliki rumah sendiri datang dari seorang kerabat bernama Andi Mansyur Sulilopu. Saat itu rajin menyambangi kami ketika baru tiba di Makassar dan menyampaikan informasi sebuah komplek perumahan baru di wilayah Sudiang yang tidak jauh dari rumah tumpangan yang saya tempati. Ajakan tersebut dengan maksud untuk bisa tinggal bertetangga dengan keluarganya dan sama-sama mengajukan aplikasi kredit pada komplek perumahan yang sama.
Ajakan tersebut saya sambut dengan biasa-biasa saja dan nyaris tanpa harapan mengingat penghasilan bersih saya tidak bankable. Meski saya pesimis, kerabat tersebut tidak berhenti mendorong dan memberikan pertimbangan-pertimbangan rasional. Pengalamannya mengajukan kredit pada beberapa perbankan juga diutarakannya.
Suami yang masih memiliki simpanan dari gaji terakhirnya di Jakarta pun ikut mendorong dan merelakan simpanannya untuk dijadikan uang tanda jadi dan uang muka. Padahal simpanan tersebut akan dijadikan modal awal untuk mengembangkan sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam kajian dan advokasi kebijakan di Makassar. Bahkan sang suami dengan nada bercanda siap menjadi “tukang ojek” untuk menutupi kebutuhan rumah tangga bila semua penghasilan bersih saya habis untuk membayar kredit rumah per bulan.
Memasuki Januari 2007, saya mencoba mengajukan kredit rumah pada sebuah perbankan syariah di Makassar. Pilihan pada bank syariah tersebut berdasarkan besaran kredit yang ditawarkan dengan kemampuan pengembaliannya dari penghasilan saya sebagai dosen perguruan tingga swasta. Dipandu oleh kerabat itu, saya mengisi formulir daftar penghasilan yang dianggap riel diluar dari gaji pokok, seperti honor dari kegiatan riset, honor dari bimbingan mahasiswa dan kegiatan akademik lainnya sehingga bisa terlihat bankable dan berdasar pada kejujuran faktual.
Tiga bulan berikutnya, keajaiban itu datang. Pengajuan kredit saya dikabulkan pihak bank syariah dan pada bulan April itu pula dilakukan akad kredit. Akhirnya impian untuk memiliki rumah sendiri tinggal menghitung hari. Bank syariah ternyata membuat impian itu menjadi kenyataan.
Zikir dan Pikir
Tekad untuk memiliki rumah sendiri tidak datang sendiri. Saya aktif melakukan zikir, berdoa dan berikhtiar serta membaca Al-Quran secara rutin. Sikap qonaah pun senantiasa dikedepankan sebagai bentuk rasa syukur ke hadirat Allah Swt atas segala kemudahan yang diberikan-Nya.
Sebagai dosen pada perguruan tinggi Islam, saya juga aktif pada setiap kegiatan zikir akbar yang rutin digelar pihak universitas di mesjid kampus UMI setiap awal bulan. Sebenarnya kegiatan zikir sebagai bentuk kesyukuran setiap kali habis menerima gaji pada awal bulan. Meski dengan gaji relatif kecil, mengajar di UMI merupakan sebuah pengabdian pada agama sehingga gaji tersebut diharapkan mengandung berkah.
Melalui kegiatan zikir secara rutin diharapkan secara simultan kegiatan pikir juga meningkat. Zikir dan pikir menjadi kata kunci saya saat itu dan mulai mendarah-daging hingga kini, ketika impian itu sedang menjelma menjadi bukti nyata. Apalagi dengan zikir dan pikir, terbukti dapat memudahkan datangnya rezeki yang berberkah.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Pengalaman Menjadi Calon Dekan Dadakan

Apa bisa perempuan jadi pemimpin? Bagaimana rasanya bila perempuan memimpin sebuah fakultas yang memiliki dua ribuan mahasiswa? Sederet pertanyaan itulah yang terlintas di benak saya tatkala secara mendadak saya dinominasikan untuk menjadi dekan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia (FKM-UMI), Makassar.
Ceritanya, pada hari Jumat, (22/01/2010) kemarin hajatan kecil pemilihan Dekan FKM UMI jauh dari riuh rendah seperti sidang Pansus Century-gate di DPR Senayan, Jakarta. Tanpa banyak publikasi, suksesi dekan FKM berlangsung secara kekeluargaan dalam budaya akademik yang dijunjung tinggi.
Meski jabatan dekan adalah sebuah jabatan prestisius dalam lembaga perguruan tinggi, namun nampaknya saya tidak terlalu antusias, apalagi ambisi untuk menduduki posisi itu. Tapi rupanya, beberapa orang-orang di perguruan tinggi islami tersebut menganggap saya layak untuk menduduki posisi itu. Buktinya, pada saat sesi penyerahan nama-nama kandidat dekan oleh masing-masing ketua program studi (prodi) dan para wakil dekan, mereka masing-masing menuliskan nama saya dari tiga nama yang harus diserahkan setiap pemegang suara.
Pada pemilihan dekan kali ini, para pemegang suara sebanyak delapan orang masing-masing ketua prodi sebanyak tiga orang/suara, para wakil dekan sebanyak tiga orang/suara dan dekan satu suara serta wakil dari para dosen sebanyak 1 orang/suara.
Dari hasil pengumpulan nama-nama calon dekan FKM, terjaring lima nama yakni Dr Muh Ikhsan MS. PKK, Ikhtiar SKM. M.Kes, Prof. Dr. Baharuddin Semmaila SE, dr. Kidri Alwi M.Kes dan Fatmah Afrianty Gobel, SKM, M.Epid. Meski nama saya terjaring sebagai kandidat dekan, saya merasa masih bisa menghindari jabatan itu dengan mengundurkan diri sebagai kandidat. Namun rencana tersebut urung terlaksana, karena dua diantara lima kandidat menyatakan mengundurkan diri yakni dr Kidry dan Prof Baharuddin sehingga tersisa tiga orang kandidat. Saya berpikir, kalau saya juga ikut mengundurkan diri, maka pemilihan dekan berlangsung tidak menarik karena hanya diikuti oleh dua orang. Maka dengan tekad sebagai sumbangsih kecil pada budaya demokratis, maka saya rela tidak mengundurkan diri meski hati kecil saya berkata lain.
Maka dilangsungkanlah pemilihan dekan FKM UMI dalam suasana cuaca cerah di Kota Makassar dengan menampilkan tiga kandidat dekan yakni dr Muh. Ikhsan, MS.PKK (Dekan sekarang), Ikhtiar, SKM, M.Kes (wakil dekan I), dan saya sendiri yang masih menjabat Ketua Prodi Kesehatan Masyarakat (Kesmas). Ketika pemungutan suara berlangsung, saya dengan sengaja memilih kandidat lain, dan bukan nama saya. Namun anehnya, ketika perhitungan suara dilakukan, saya mendapatkan satu suara, sementara dr Ikhsan mendapatkan dua suara dan Ikhtiar, SKM, M.Kes mendapatkan lima suara.
Sampai tulisan ini dibuat, saya masih penasaran akan sosok yang rela memberikan suaranya kepada saya itu dari delapan pemegang suara. Saya juga sempat melihat secara samar kartu pemilihan yang dipegang kandidat lain (dr Ikhsan) tidak memilih dirinya yang memperoleh nomor kontestan I, karena tertulis angka berkelok seperti angka dua atau tiga. Bila kandidat tersisa (Ikhtiar, SKM, M.Kes) juga tidak memilih dirinya, berarti inilah pemilihan dekan teraneh karena masing-masing memberikan suaranya kepada kandidat lain. Sungguh sebuah praktek demokrasi dalam lingkungan akademik yang baik menurut saya karena masing-masing kandidat tidak ambisius pada tahta dan jabatan namun semuanya siap menerima amanah.
Hasil pemungutan suara kandidat dekan FKM UMI kemudian diserahkan kepada pihak rektorat UMI. Dalam lingkungan UMI, para pejabat struktural disebut sebagai penerima amanah. Namun siapkah FKM UMI dipimpin seorang dekan perempuan? Saya sendiri sebagai seorang perempuan tidak siap karena hati saya lebih condong untuk segera mengambil gelar Ph.D di Australia. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik!

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Mimpi Ketemu Rasulullah Muhammad SAW

Pada suatu malam pada bulan Agustus 2009, saya bermimpi bertemu Rasulullah dalam tidur. Malam itu, suasana panas terasa seperti biasanya. Makassar sudah lama memasuki musim kemarau panjang. Kipas angin jadi satu-satunya tumpuan mengimbangi cuaca panas yang menyengat meski kamar saya menempati bagian dalam rumah.
Mimpi itu diawali ketika saya melihat berada dalam suatu rombongan haji berkunjung ke Baitullah dan rombongan itu dipimpin oleh mantan Kapus FKM UMI. Saat akan memasuki pintu Mesjid Masjidil Haram, saya seakan melihat Rasulullah dalam tiga wajah yang berbeda; awalnya terlihat sekujur tubuhnya kemudian berubah menjadi blur hingga akhirnya berbentuk tulisan Arab bertuliskan nama Muhammad SAW.
Dalam mimpi itu, saya menyaksikan wajah Rasulullah sangat gagah dan bersih. Sekujur tubuhnya dibungkus kain. Pemandangan itu hanya sesaat karena perlahan berubah menjadi samar mirip foto yang sedang diblur. Yang menjadi keteguhan hati bahwa itu adalah sosok Rasulullah karena pada akhirnya bentuknya tertulis nama besar Muhammad SAW sebagaimana kerap dilihat pada tulisan kaligrafi yang kerap dijumpai pada rumah-rumah kaum Muslim.
Mimpi itu saya ceritakan kepada suami dan rekan-rekan kerja saya di Kampus UMI. Kebetulan di kampus terdapat satu buku tentang pengalaman orang-orang terdahulu sahabat-sahabat nabi dan sesudahnya yang pernah bermimpi yang sama beserta tafsirnya.
Pernah suatu kali saya ingin mengosultasikan kepada seorang ustadz yang sering tampil di acara Tabir Mimpi TPI. Tapi tidak kesampaian karena pihak produser acara tersebut hanya melayani konsultasi via telepon langsung, tidak ada alternative lain, misalnya lewat email, sms atau facebook sebagaimana acara keagamaan lainnya di televisi.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Tinggalkan Komentar

MLM BACKLINK POWER

Siapa yang meragukan kedahsyatan faktor kali? Siapa yang mengira MLM (Multi Level Marketing) hanya di dunia offline / Diluar Internet ? Kini penyebaran produk dengan pemasaran sistem Multi Level Marketing bisa diterapkan di internet.fikir Saya ingin mencoba mengajak anda semua untuk memanfaatkan kedahsyatan faktor kali dan kecepatan penyebaran MLM dalam bentuk petukaran BACKLINK
Ikuti cara-cara mainnya :
a. Copy-paste Isi Posting ini ke blog anda
b. Copy-paste link-link dibawah ini :

1. Republika
2. Detik
3. Okezone
4. Facebook
5. Friendster
6. Google
7. Bisnis Online
8. dimas0883 blogspot
9. pras2009
10.http://yantigobel.dagdidug.com,

c. Hapus Link yang no 1, dan ketik link punya kamu di no. 10, sehingga :
star Nomor 1 Hilang, nomor 2 jadi nomor 1.
star Nomor 3 jadi nomor 2, dan nomor 4 jadi nomor 3, begitu seterusnya.
d. Promosikan artikel ini dan ajak 5 orang saja untuk mengikuti backlink ini, sehingga akan terbentuk :

Ketika posisi anda 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 1 x 5 = 5
Posisi 8, jml backlink = 5 x 5 = 25
Posisi 7, jml backlink = 25 x 5 = 125
Posisi 6, jml backlink = 125 x 5 = 625
Posisi 5, jml backlink = 625 x 5 = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 13,125 x 5 = 5,625
Posisi 3, jml backlink = 5,625 x 5 = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 78,125 x 5 = 390,625
Posisi 1, jml backlink = 390,625 x 5 = 1,953,125

Dari sisi SEO anda sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline anda mengklik link itu, anda juga mendapatkan traffik tambahan.
Selamat mencoba.. dan mari kita lihat bagaimana efeknya, s’moga bermanfaat peace

Silahkan Copy-Paste logo di bawah ini untuk dikampanyekan sebagai Backlik para blogger
http://1.bp.blogspot.com/_ks3S47APi5k/SlHl7UAgnbI/AAAAAAAAAWI/1kgWW2VXEbs/s320/MLM+BACKLINK_1.jpg

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar